Diskusi Hallyu Banyuwangi Bahas Strategi Budaya Lokal Menuju Pengaruh Global
BANYUWANGI, 12 Mei 2026, Diskusi bertajuk “Hallyu Banyuwangi: dari Festival ke Industri, dari Identitas Lokal ke Pengaruh Global” digelar di aula lantai 3 Bappeda Kabupaten Banyuwangi pada Selasa (12/5/2026). Forum tersebut menjadi ruang bertemunya budayawan, akademisi, dan pegiat seni untuk membahas potensi budaya Banyuwangi sebagai fondasi pembangunan daerah berbasis identitas lokal.
Kegiatan dibuka langsung oleh Kepala Bappeda Kabupaten Banyuwangi, Suyanto Waspo Tondo Wicaksono. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa budaya tidak hanya dipandang sebagai warisan tradisi, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai kekuatan pembangunan ekonomi dan peradaban daerah.
Hadir sebagai narasumber utama, Rektor Universitas Islam Cordoba Banyuwangi, Agus Trihartono. Diskusi dipandu oleh Direktur Radar Banyuwangi, Samsudin Adlawi sebagai moderator.
Sejumlah tokoh budaya dan akademisi turut hadir dalam forum tersebut. Di antaranya Ketua Dewan Kesenian Blambangan, Hasan Basri, bersama beberapa anggota DKB seperti Syafaat, Jhon Rahmatullah, dan Elvin Hendrata.
Dari kalangan akademisi hadir pula Muttafaqurrohmah dari Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, Emi Hidayati dari Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi, Ahmadi, serta Wiwin Indiarti bersama peserta lainnya.
Dalam diskusi tersebut, para peserta membahas bagaimana kekuatan budaya dapat menjadi dasar pembangunan daerah, sebagaimana yang dilakukan Korea Selatan melalui gelombang budaya populer atau Hallyu. Korea Selatan dinilai berhasil menjadikan akar budaya sebagai instrumen kemajuan bangsa melalui industri seni, film, musik K-Pop, hingga produk kreatif lainnya yang mendunia.
Menurut para peserta, Banyuwangi memiliki modal budaya yang sangat kuat untuk menempuh jalan serupa. Kekayaan seni tradisi, musik daerah, ritual adat, hingga tarian lokal dinilai menjadi kekuatan identitas yang tidak dimiliki semua daerah.
Dalam forum itu juga disampaikan rasa syukur karena Banyuwangi masih memiliki kekayaan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Beragam kesenian daerah yang terus berkembang dianggap sebagai modal penting untuk membangun industri budaya berbasis lokalitas.
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pandangan mengenai pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku seni, dan media dalam mendorong budaya Banyuwangi agar tidak berhenti sebatas festival tahunan, tetapi berkembang menjadi kekuatan ekonomi kreatif dan pengaruh budaya yang lebih luas di tingkat nasional maupun global.
Kontributor dan editing: Syafaat
Postingan Terbaru
Analisis Filologis dan Semiotik Syair Kembang Dermo dalam Ritual Seblang Banyuwangi
Kembang Dermo merupakan salah satu syair yang dinyanyikan dalam rangkaian rit...
Selasar Jejarak Perkuat Ruang Dialog dan Kreativitas Sastra di Banyuwangi
Selasar Jejarak Perkuat Ruang Dialog dan Kreativitas Sastra di BanyuwangiBANYUWA...
DKB Beri Masukan untuk Musik Pengiring BEC 2026 Bertema Perang Bayu
BANYUWANGI – Persiapan pelaksanaan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 terus di...
di pintu langit
Kata PengantarBupati BanyuwangiIpuk Fiestiandani Azwar Anas Alhamdulillah,...
Tokoh Media dan Budaya Banyuwangi Berpulang, Agusta Tinggalkan Jejak di Dunia Jurnalistik Lokal
BANYUWANGI, 12 Mei 2026 — Dunia jurnalistik Banyuwangi kembali diselimuti duka....
Menteri Hukum Serahkan Surat Pencatatan KI Komunal ke Kabupaten Banyuwangi
Menteri Hukum Serahkan Surat Pencatatan KI Komunal ke Kabupaten BanyuwangiDalam...