Analisis Filologis dan Semiotik Syair Kembang Dermo dalam Ritual Seblang Banyuwangi
Kembang Dermo merupakan salah satu syair yang dinyanyikan dalam rangkaian ritual Seblang di wilayah Banyuwangi, khususnya dalam tradisi Seblang Olehsari. Dalam praktik ritual tersebut, syair ini biasanya dinyanyikan pada hari ketujuh penyelenggaraan upacara, bersamaan dengan prosesi seorang warga yang membagikan setangkai bunga kepada para penonton. Dalam konteks sosial masyarakat setempat, bunga tersebut tidak sekadar dipahami sebagai benda estetis, melainkan memiliki status simbolik yang sakral. Bahkan dalam praktiknya, bunga tersebut sering dipahami sebagai benda yang “dimahari” secara sukarela oleh masyarakat yang menginginkannya. Hal ini menandakan bahwa objek tersebut telah mengalami proses sakralisasi dalam kerangka kepercayaan kolektif masyarakat.
Fenomena
tersebut menjadi menarik untuk dikaji karena sakralitas yang dilekatkan pada
bunga kembang dermo tidak hanya terletak pada benda fisiknya, tetapi juga
pada teks verbal yang menyertainya, yakni syair yang dinyanyikan dalam ritual
tersebut. Oleh sebab itu, fokus kajian dalam tulisan ini tidak diarahkan pada
objek bunga sebagai benda ritual semata, melainkan pada makna yang terkandung
dalam syair Kembang Dermo itu sendiri. Dengan kata lain, tulisan ini
berupaya menelaah dimensi semantik, simbolik, dan kultural dari teks syair
tersebut melalui pendekatan analisis sastra yang memadukan kajian filologis,
linguistik historis, serta perspektif semiotik.
Syair Kembang Dermo terdiri atas dua bait, dan masing-masing bait terdiri atas
empat baris. Adapun teks syair yang diwariskan secara lisan oleh masyarakat
setempat adalah sebagai berikut:
Teks
di atas ditulis dalam ejaan Jawa yang dalam praktik penulisan modern seringkali
tidak secara tegas membedakan bunyi vokal o dan a. Oleh karena
itu, untuk kepentingan analisis fonologis dan semantik, teks tersebut dapat
direkonstruksi ke dalam bentuk yang lebih mendekati bunyi aslinya sebagai
berikut:
Sebelum
melakukan analisis terhadap makna setiap baris dan bait dalam syair tersebut,
langkah metodologis yang lazim dilakukan dalam kajian puisi tradisional adalah
menelaah terlebih dahulu makna dari setiap diksi yang digunakan. Pendekatan ini
penting karena dalam puisi tradisional Jawa, setiap kata sering kali memiliki
lapisan makna yang tidak semata-mata bersifat denotatif, tetapi juga simbolik
dan kosmologis. Selain itu, terkadang juga tidak bisa dikenali karena perubahan
bunyi seiring berjalannya waktu.
Berikut
adalah makna dasar dari diksi-diksi yang digunakan dalam syair tersebut:
- Kembang: bunga
- Dermo: belum ditemukan secara langsung dalam leksikon Jawa
kuno
- Wiyayate: belum ditemukan secara pasti dalam leksikon Jawa kuno
- Mbok: sapaan kepada perempuan yang lebih tua
- Widodari: bidadari
- Yo: partikel penegas dalam bahasa lisan
- Kurmo: belum ditemukan dalam kamus Jawa kuno
- Tundo: tingkat, lapis, undakan
- Pitu: tujuh
- Ganjarane: hadiahnya, balasannya
- Wong: orang
- Ono: ada
- Perang: perang
- Sun: saya
- Sumping(i): (memberi) hiasan telinga
- Keluk: belum ditemukan secara langsung
- Ijo: hijau
- Pinunjang: penopang
- Ati: hati atau perasaan
- Ronce-ronce: rangkaian
- Lare: anak kecil (laki-laki maupun perempuan)
- Cilik: kecil
- Tibo: jatuh
- Miring: miring
Dilihat
dari komposisi leksikalnya, syair ini menunjukkan karakter linguistik yang
menarik. Beberapa diksi tampak berasal dari bahasa Jawa kuno, sementara
sebagian lainnya memperlihatkan ciri bahasa Jawa modern. Selain itu, terdapat
pula kemungkinan masuknya unsur bahasa Arab, khususnya pada kata kurmo
yang secara fonetis menyerupai kata kurma. Fenomena ini menandakan bahwa
teks syair tersebut kemungkinan besar berasal dari periode transisional dalam
sejarah budaya Blambangan, yakni masa ketika bahasa Jawa kuno masih digunakan
secara luas, tetapi pengaruh bahasa Jawa modern dan unsur kebudayaan Islam
mulai masuk ke dalam kehidupan masyarakat.
Namun
demikian, kemungkinan lain juga dapat diajukan, yaitu bahwa syair ini pada
mulanya merupakan teks berbahasa Jawa kuno yang relatif murni, tetapi mengalami
proses perubahan linguistik secara bertahap akibat transmisi lisan selama
berabad-abad. Dalam proses tersebut, sejumlah kata mungkin mengalami pergeseran
bunyi, asimilasi fonetis, atau bahkan campur kode atau penggantian dengan kosakata yang lebih
dikenal oleh generasi penutur berikutnya. Kedua kemungkinan tersebut tentu
memerlukan penelitian filologis dan lingusitik yang lebih mendalam dan bukan
merupakan fokus utama tulisan ini.
Kembali
pada analisis teks syair Kembang Dermo, setelah makna dasar setiap diksi
diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah mengkaji bagaimana diksi-diksi
tersebut membentuk makna pada tingkat baris dan bait.
Baris
pertama bait kesatu berbunyi:
Kembang
dermo
Kata kembang telah diketahui maknanya sebagai bunga. Sementara itu, kata dermo tidak secara langsung ditemukan dalam leksikon Jawa kuno. Akan tetapi, berdasarkan penelusuran dalam Old Javanese–English Dictionary karya Zoetmulder, terdapat kata yang secara fonetis sangat dekat dengan dermo, yaitu dharma atau darma, yang oleh orang Jawa modern lebih sering disebut derma atau dermo. Dalam tradisi Jawa kuno maupun dalam kosmologi Hindu-Buddha, dharma memiliki makna yang sangat luas, antara lain kebenaran, kebajikan, kewajiban moral, tugas suci, serta tatanan hidup yang benar.
Apabila
diasumsikan bahwa kata dermo merupakan hasil perubahan fonetis dari kata
darma, maka baris pertama syair tersebut dapat ditafsirkan sebagai
metafora “bunga kebajikan”, “bunga kebenaran”, atau “bunga suci”. Dalam
kerangka simbolisme Jawa, bunga sering kali melambangkan kesucian, keindahan
spiritual, dan persembahan kepada kekuatan transenden. Dengan demikian, frasa kembang
dermo dapat dipahami sebagai simbol kebajikan yang mekar, atau sebagai
representasi nilai moral yang dimuliakan dalam tatanan kosmis.
Baris
kedua bait kesatu berbunyi:
Wiyayate
mbok Widodari
Baris
ini terdiri dari tiga unsur leksikal utama: wiyayate, mbok, dan widodari.
Dua kata terakhir relatif mudah dipahami. Kata mbok merupakan sapaan
kepada perempuan yang lebih tua atau dihormati, sementara widodari
berarti bidadari, yaitu makhluk surgawi dalam kosmologi Jawa yang sering
diasosiasikan dengan kecantikan, kemurnian, dan kekuatan spiritual.
Permasalahan
muncul pada kata wiyayate, yang tidak secara langsung ditemukan dalam
kamus Jawa kuno. Namun jika dilihat dari kedekatan fonetisnya, kata ini sangat
mungkin berkaitan dengan kata wiyatane. Dalam bahasa Jawa kuno, wiyatane
berarti “ilmunya” atau “pengetahuannya”.
Jika
hipotesis ini diterima, maka frasa wiyayate mbok widodari dapat
ditafsirkan sebagai “ilmunya mbok Widodari”. Dalam konteks simbolik, ungkapan
ini dapat merujuk pada pengetahuan surgawi atau kebijaksanaan yang berasal dari
dunia adikodrati.
Dengan
demikian, dua baris pertama syair tersebut dapat dibaca sebagai suatu
konstruksi metaforis yang menghubungkan tiga unsur penting: bunga (simbol
kesucian), dharma (kebenaran moral), dan widodari (entitas surgawi yang membawa
pengetahuan). Kombinasi ini mengindikasikan bahwa syair Kembang Dermo
tidak sekadar merupakan lagu ritual biasa, melainkan sebuah teks simbolik yang
mengandung gagasan kosmologis tentang hubungan antara manusia, kebajikan moral,
dan dunia ilahi.
Baris ketiga bait kesatu berbunyi:
Yo kurmo tundo pitu
Baris ini terdiri atas empat unsur leksikal,
yakni yo, kurmo, tundo, dan pitu. Kata yo
dalam bahasa Jawa berfungsi sebagai partikel penegas yang lazim digunakan dalam
tuturan lisan untuk memperkuat pernyataan. Kata tundo berarti tingkat,
lapis, atau undakan, sedangkan pitu berarti tujuh. Dengan demikian,
frasa tundo pitu secara literal dapat dimaknai sebagai “tujuh lapisan”
atau “tujuh tingkatan”.
Permasalahan utama dalam baris ini terletak pada
kata kurmo. Jika ditafsirkan secara langsung sebagai kata serapan dari
bahasa Arab, yaitu kurma, maka makna baris ini menjadi kurang koheren
dengan konteks simbolik yang dibangun oleh baris-baris sebelumnya. Hal ini
disebabkan oleh fakta bahwa unsur buah kurma tidak memiliki hubungan simbolik
yang kuat dengan rangkaian makna tentang bunga, kebajikan, ilmu, dan bidadari
yang muncul pada baris-baris sebelumnya, yang lebih dekat dengan ajaran Buddha
daripada Islam.
Oleh karena itu, penafsiran yang lebih
memungkinkan adalah bahwa kata kurmo merupakan bentuk fonetis yang
mengalami perubahan dari frasa lain dalam bahasa Jawa kuno. Dalam tradisi
kosmologi Jawa kuno dikenal konsep bahwa alam semesta tersusun secara
bertingkat, dan langit dipahami memiliki beberapa lapisan. Kepercayaan ini
bahkan masih bertahan dalam berbagai teks kosmologis Jawa yang menyebut adanya langit
lapis pitu atau tujuh lapisan langit.
Apabila dilihat dari aspek fonetis, kata kurmo
memiliki kemiripan bunyi dengan frasa teko romo. Dalam bahasa Jawa
kuno, romo atau rama dan bopo
atau bapa sering digunakan sebagai
simbol langit atau entitas paternal kosmis. Sementara itu, kata teko
berarti “datang dari” atau “berasal dari”.
Dengan demikian, frasa yo kurmo tundo pitu
dapat diduga sebagai hasil kontraksi fonetis dari frasa yo teko romo tundo
pitu, yang berarti “ya, berasal dari langit lapis tujuh”. Fenomena semacam
ini dalam linguistik dikenal sebagai asimilasi kontraksi,
yaitu pemendekan dua kata atau lebih yang dilebur menjadi satu bentuk baru
dengan penghilangan beberapa bunyi.
Jika hipotesis ini diterima, maka baris ketiga
syair tersebut mengandung makna kosmologis yang sangat kuat, yaitu bahwa
sesuatu yang dibicarakan dalam syair ini berasal dari dimensi surgawi
tertinggi.
Baris keempat bait kesatu berbunyi:
Ganjarane wong ono perang
Baris ini terdiri atas empat kata yang maknanya
relatif jelas: ganjarane (balasannya atau hadiahnya), wong
(orang), ono (ada), dan perang (perang). Jika dirangkai dalam
struktur kalimat, baris ini kurang lebih berarti “balasan bagi manusia yang
sedang berperang”.
Dalam konteks simbolik puisi Jawa, kata perang
tidak selalu dimaknai sebagai konflik fisik semata. Dalam banyak teks sastra
Jawa klasik, perang juga sering dimaknai sebagai metafora perjuangan batin
manusia. Dengan demikian, “orang yang sedang berperang” dapat ditafsirkan
sebagai manusia yang sedang menjalani perjuangan hidup, baik dalam dimensi
moral, spiritual, maupun eksistensial. Bukan hanya itu, bahkan hidup itu
sendiri juga sering digambarkan sebagai sebuah ajang peperangan bagi manusia.
Jika keempat baris pertama syair tersebut disusun
kembali menjadi satu bait dengan mempertimbangkan kemungkinan rekonstruksi
leksikalnya, maka bentuknya dapat dituliskan sebagai berikut:
Yang secara bebas dapat diartikan sebagai:
Struktur makna ini menunjukkan bahwa syair
tersebut menggambarkan suatu anugerah suci yang berasal dari dimensi surgawi
dan diberikan kepada manusia yang sedang menjalani perjuangan hidup atau sedang
menjalani hidup.
Memasuki bait kedua, syair tersebut dimulai
dengan baris pertama:
Wong ono perang
Baris ini merupakan pengulangan sebagian dari
baris keempat bait pertama. Dalam kajian stilistika, pengulangan semacam ini
dikenal dengan istilah anadiplosis, yaitu gaya bahasa ketika
kata atau frasa di akhir baris diulang kembali pada awal baris berikutnya.
Fungsi anadiplosis dalam puisi adalah untuk
menegaskan makna penting sekaligus menciptakan kesinambungan ritmis antarbaris.
Dalam syair Kembang Dermo, pengulangan ini berfungsi menegaskan
kembali subjek utama dari teks tersebut, yaitu manusia yang sedang menjalani
perjuangan atau “perang” dalam hidup ini.
Baris berikutnya berbunyi:
Sun sumpingi keluk ijo
Baris ini terdiri atas empat kata: sun, sumpingi,
keluk, dan ijo. Kata sun berarti “saya”, sedangkan sumpingi
berasal dari kata sumping, yaitu hiasan telinga yang biasa digunakan
dalam busana tradisional Jawa.
Permasalahan muncul pada kata keluk,
yang tidak secara langsung ditemukan dalam kamus bahasa Jawa kuno. Namun secara
fonetis kata ini sangat dekat dengan kata kuluk. Dalam bahasa Jawa
kuno, kuluk berarti penutup kepala atau mahkota yang biasanya
dikenakan oleh bangsawan atau tokoh berstatus tinggi.
Jika hipotesis ini diterima, maka frasa sun
sumpingi keluk ijo dapat ditafsirkan sebagai “aku menghiasinya dengan
sumping dan memberinya mahkota hijau”. Dalam tradisi simbolik Jawa, warna hijau
sering dikaitkan dengan kesuburan, kehidupan, dan keseimbangan kosmis. Hal ini
juga selaras dengan ritual Seblang
yang menggunakan peranti berupa mahkota yang terbuat dari daun pisang yang
dirangkai.
Dengan demikian, baris ini dapat dimaknai sebagai
tindakan penganugerahan simbolik kepada manusia yang telah menjalani perjuangan
hidup.
Baris ketiga pada bait kedua berbunyi:
Pinunjang ati ronce-ronce
Baris ini terdiri dari tiga kata: pinunjang,
ati, dan ronce-ronce. Secara literal, frasa ini dapat
dimaknai sebagai “penopang hati yang terangkai”.
Namun demikian, terdapat satu kata yang menarik
untuk ditelaah lebih lanjut, yaitu pinunjang. Kata ini merupakan
bentuk yang lebih dekat dengan bahasa Jawa modern. Dalam bahasa Jawa kuno
dikenal kata opanunjang atau panunjang yang memiliki arti
serupa, yakni penopang atau pendukung. Oleh karena itu, sangat mungkin bahwa
kata pinunjang dalam syair ini merupakan bentuk yang telah mengalami
perubahan fonetis dari kata panunjang.
Jika demikian, maka baris ini dapat ditafsirkan
sebagai metafora tentang sesuatu yang menopang hati manusia dan menyusunnya
seperti rangkaian bunga. Dalam kerangka simbolisme Jawa, rangkaian bunga sering
melambangkan harmoni batin atau keselarasan rasa dengan alam.
Baris
terakhir bait kedua berbunyi:
Lare cilik tibo miring
Baris
ini terdiri atas empat kata yang maknanya cukup jelas: lare (anak), cilik
(kecil), tibo (jatuh), dan miring (miring). Secara literal, frasa
ini berarti “anak kecil jatuh miring”. Namun dalam analisis simbolik, ungkapan
ini tidak selalu harus dimaknai secara harfiah.
Dalam
tradisi kosmologi Jawa dikenal keyakinan tentang romo atau bopo langit dan ibu
bumi. Langit dipandang sebagai prinsip kosmis maskulin, sedangkan bumi
sebagai prinsip feminin yang melahirkan kehidupan. Dari relasi simbolik antara
langit dan bumi inilah seluruh makhluk yang hidup di dunia dianggap berasal,
termasuk manusia. Dalam kerangka pemikiran ini, manusia sering dipandang
sebagai “anak” dari bumi.
Dengan
demikian, diksi lare cilik dalam
syair tersebut dapat ditafsirkan sebagai simbol manusia secara umum, yaitu
makhluk yang hidup di bumi sebagai “anak” dari kosmos. Oleh karena itu, figur
anak kecil dalam baris tersebut tidak harus dipahami sebagai anak dalam arti
biologis, melainkan sebagai metafora bagi manusia.
Selanjutnya,
frasa tibo miring dapat dimaknai
secara simbolik sebagai kematian. Dalam tradisi Jawa yang telah dipengaruhi
oleh ajaran Islam, manusia yang meninggal dunia dimakamkan dalam posisi miring ke kanan menghadap kiblat. Oleh
karena itu, ungkapan “jatuh miring” dapat dipahami sebagai gambaran simbolik
tentang manusia yang akhirnya pasti mati.
Di
sinilah tampak menarik bahwa unsur Islam kemungkinan telah masuk ke dalam
struktur makna syair tersebut. Posisi tubuh yang “miring” dalam konteks
kematian sangat dekat dengan praktik pemakaman Islam yang berkembang di
masyarakat Jawa.
Namun
demikian, masih terbuka pertanyaan apakah diksi “miring” memang merupakan bagian asli dari syair tersebut sejak
awal penciptaannya, ataukah merupakan bentuk perkembangan makna yang muncul
kemudian agar lebih dekat dengan ajaran Islam. Hal ini tentu memerlukan telaah
yang lebih mendalam melalui penelitian yang lebih serius.
Jika seluruh bait kedua dirangkai kembali dengan
mempertimbangkan kemungkinan rekonstruksi leksikalnya, maka bentuknya menjadi:
Yang secara bebas dapat diartikan sebagai:
Setelah makna denotatif dari setiap baris
dianalisis, langkah berikutnya adalah menafsirkan makna simbolik keseluruhan
syair tersebut. Dalam hal ini, pendekatan analisis tidak dapat hanya
menggunakan satu perangkat metodologis saja, melainkan perlu memadukan
perspektif sastra, semiotika, dan etnologi. Selain itu, juga tidak cukup hanya
disajikan dalam bentuk artikel pendek seperti ini, sehingga perlu penelitian
yang lebih detail dan mendalam di lain waktu
Namun demikian, sudah bisa ditarik benang merah
bahwa dalam konteks ritual Seblang, syair Kembang Dermo
tampaknya berfungsi sebagai narasi simbolik mengenai perjalanan manusia dalam
menghadapi perjuangan hidup. Manusia digambarkan sebagai sosok yang sedang
“berperang”, yakni menghadapi konflik batin dan tantangan eksistensial selama
hidupnya. Bagi manusia yang mampu menjalani perjuangan tersebut dengan baik,
terdapat anugerah simbolik yang berasal dari dimensi kosmis tertinggi—yang
dalam syair ini digambarkan sebagai “bunga kebajikan dari langit lapis tujuh”.
Anugerah tersebut tidak hanya bersifat material, tetapi
juga spiritual. Ia diwujudkan dalam bentuk mahkota, hiasan telinga, dan
rangkaian hati (kebahagiaan)—simbol-simbol yang dalam kebudayaan Jawa sering
dikaitkan dengan kehormatan, kebijaksanaan, harmoni batin, dan kebahagiaan
setelah mati.
Sementara
itu, citra “lare cilik tibo miring”
pada baris terakhir dapat ditafsirkan sebagai gambaran simbolik mengenai
kematian manusia. Dalam kerangka kosmologi Jawa, manusia dipandang sebagai
“anak” dari bumi yang lahir dari relasi kosmis antara langit sebagai romo
atau bopo dan bumi sebagai ibu. Oleh karena itu, figur anak kecil dalam baris terakhir tersebut
dapat dimaknai sebagai simbol manusia yang sedang berjuang menjalani hidup di
dunia.
Adapun
ungkapan tibo miring dapat dipahami sebagai representasi kematian, yang
dalam tradisi Jawa yang telah dipengaruhi Islam digambarkan melalui posisi
tubuh yang dimakamkan dalam keadaan miring. Dengan demikian, baris tersebut
menyiratkan bahwa pada akhirnya semua manusia yang berjuang dalam hidup akan
mengalami kematian.
Melalui dugaan-dugaan semacam ini, dapat
disimpulkan bahwa syair Kembang Dermo bukan sekadar lagu ritual,
melainkan sebuah teks simbolik yang menyimpan pandangan kosmologis masyarakat
Banyuwangi mengenai hubungan antara manusia, kebajikan moral, tatanan semesta,
kehidupan, kematian, dan keadaan atau kondisi setelah kematian. Syair Kembang
Dermo menjadi bukti bahwa tradisi lisan lokal Banyuwangi masa lalu mengandung
kompleksitas makna yang tidak kalah dengan karya sastra klasik lain yang lebih
dikenal dalam khazanah kesusastraan Nusantara.
Penulis : Hasan
Basri, Dewan Kesenian Blambangan
Postingan Terbaru
Selasar Jejarak Perkuat Ruang Dialog dan Kreativitas Sastra di Banyuwangi
Selasar Jejarak Perkuat Ruang Dialog dan Kreativitas Sastra di BanyuwangiBANYUWA...
DKB Beri Masukan untuk Musik Pengiring BEC 2026 Bertema Perang Bayu
BANYUWANGI – Persiapan pelaksanaan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 terus di...
di pintu langit
Kata PengantarBupati BanyuwangiIpuk Fiestiandani Azwar Anas Alhamdulillah,...
Diskusi Hallyu Banyuwangi Bahas Strategi Budaya Lokal Menuju Pengaruh Global
BANYUWANGI, 12 Mei 2026, Diskusi bertajuk “Hallyu Banyuwangi: dari Festival ke I...
Tokoh Media dan Budaya Banyuwangi Berpulang, Agusta Tinggalkan Jejak di Dunia Jurnalistik Lokal
BANYUWANGI, 12 Mei 2026 — Dunia jurnalistik Banyuwangi kembali diselimuti duka....
Menteri Hukum Serahkan Surat Pencatatan KI Komunal ke Kabupaten Banyuwangi
Menteri Hukum Serahkan Surat Pencatatan KI Komunal ke Kabupaten BanyuwangiDalam...