Napak Tilas Jejak Kembang Pepe
Saat penggarapan music pengiring tari garapan Nuno dan Epeng pada tanggal 17 Maret 2025, tampaknya terlihat Mak Temu kesulitan menyanyikan gendhing Kembang Pepe. Syair Kembang Pepe sudah hilang tidak diingat lagi Mak Temu. “sakjane Iki bagiane Pinah” (sebenarnya ini adalah bagiannya Gandrung Supinah), ujarnya sedikit kesal karena kehilangan memori. Saya yang duduk dengan Kang Gamal disebelah Mak Temu menuntun, mencoba membangkitkan lagi ingatannya.
Dalam hati diam-diam saya meragukannya, kurang yakin syair yang saya rapalkan itu benar adanya. Saya nekad menuntun ingatan Mak Temu dengan menggabungkan dengan ingatan Kang Gamal. Lamat-lamat saya coba merekontruksi kenangan masa kecil, saya dulu pernah diajari langsung H.Sutedjo Hadi Hanapi tahun 1984. Tapi begitu masuk bait-bait berikutnya saya kehilangan banyak memori. Tetapi untung hanya membutuhkan sekelumit bait pertama Kembang Pepe pada penggarapan karya itu. Hanya berfungsi sebagai pemanis.
Penasaran pulangnya saya mencoba mengidentifikasi ulang ingatan terhadap keberadaan syair Kembang Pepe. Hasil identifikasi mendapatkan beberapa catatan Kembang Pepe adalah sebagai berikut :
1. Syair Lagu Kembang Pepe berdasarkan rekaman kaset Punjari
Studio Ria Records Banyuwangi pada tahun 1985 pernah memproduksi kaset rekaman pengiring tari berbandrol Punjari – Musik Iringan Tari Kreasi Volume 6. Kaset berisi 6 (enam) gendhing pengiring tari, salah satunya adalah gending tari Punjari. Punjari dibuka dengan gendhing Kembang Pepe. Sayangnya hanya berisi sekelumit baris saja yang berfungsi sebagai pembuka tari. Padahal kaset ini banyak dijadikan acuan generasi baru ketika menyanyikan Kembang Pepe. Walhasil banyak generasi penerus yang mengira bahwa Gendhing Kembang Pepe memang hanya sekelumit itu.
Berikut adalah syair Kembang Pepe yang dialunkan sebagai opening pada rekaman kaset gendhing pengiring tari Punjari :
Kembang Pepe merambat ring Kayu Arum
Sang arumo membat mayun
Sampek peyot ngajak lungo
Pada event Festival Gandrung Sewu tanggal 09 Oktober 2017, pertunjukan digelar dalam sajian berthema Kembang Pepe, dinyanyikan panjak Cak Wan dkk secara choir. Terus gandrung menumpanginya dengan gandangan memasuki baris “Sampek peyot ngajak lungo” melakukan improvisasi laikan. Syair menjadi lirih tak terdengar. Bahkan makin kalah saat terdengar Kang Fauzi menumpangi saat bernarasi. Kembang Pepe dalam Gandrung Sewu 2017, memang disajikan dalam kemasan yang lebih berkosentrasi pada pembeberan narasi dramatis filosofi dan amanat potret peristiwa. Kembang Pepe tidak difokuskan ditampilkan pada lekuk anatomi struktur syair gendhing pelog atau tarinya, tetapi lebih memfokuskan pada titik fungsi sebaran penguatan nilai-nilai perjuangan dalam mengusir kaum penjajah. Tak ditemukan secara jelas wajah lengkapnya.
Minimnya informasi syair membuat anak muda ada yang mengamputasi 3 (tiga) baris syairnya, lalu lompat ditutup closing pada baris akhir:
Kembang Pepe merambat ring Kayu Arum
Sang arumo membat mayun
Sampek peyot ngajak lungo
Ngajak lungo, mbok pengantin kariyo dhalu
Ngenjot-ngenjot jare lakune
Syang Temenggung hang nyakseni
Kelompok Sanggar Tari Lang-Lang Buana pernah membuat karya tari kreasi baru berjudul : Gandrung Kembang Pepe. Tapi Sabar juga mempersingkat memperpendek syairnya hanya sampai Kariya Ngeluru Lare, tak lengkap sajian syairnya. Mungkinkah karena memperhitungankan kepadatan, efesiensi durasi ataukah terkait hitungan Gerak tari. Walau demikian pada deretan lagu terdapat thema gendhing lain yang biasa digunakan sebagai gending pembuka Barong, smembuat susunan syair Kembang Pepe pada music tari Lang-Lang Buana menjadi tidak lengkap menjadi sebagai berikut:
Kembang Pepe merambat ring Kayu Arum
Sang arumo membat mayun
Sampek peyot ngajak lungo
Ngajak lungo, mbok pengantin kariyo dhalu
Ngenjot-ngenjot yara lakune
Kariya ngeluru lare
2. Syair Lagu Kembang Pepe berdasarkan catatan Ottolender
Dalam catatan Ottolender tertanggal 18 Juni 1921 yang didalamnya terdapat gending lain seperti Dril, Tethel-Tethel, Oega-Oega, Lia-Lioe lagu Kembang Pepe dituliskan dengan catatan dan ejaan asli sbb:
Kembang pepe merambate
ing kajoe aroem, ja aroema
Membat majone mbok penganten
kari daloe lakonnane,
mentjot lakonnage.
Balio, ngeloeroe lariq
Lariq bakoe toeroena ing praoe
Praoene moeroep tjandi,
kang koemendoeng langsane.
Secara struktur dan diksi catatan Ottolender sedikit berbeda, terlebih ada kata baru bakoe dan catatan yang berbeda jauh pada 2 (dua) baris penutupnya. /Praoene moeroep tjandi/kang koemendoeng langsane//. Apakah Ottolender salah dengar, ataukah pelantun mengalami keseleo lidah (slip of the tongue) , ataukah memang memang begitu aslinya ? kata kerja atau adverb “bakoe” relative tidak pernah terdengar.
Tetapi kalau boleh saya rekontruksi dengan susunan bait dan ejaan sekarang, maka catatan Ottolender itu menjadi sbb:
Kembang pepe merambat ring kayu arum,
Ya aruma membat mayun
Mbok penganten kari dalu lakonnane,
mencot lakonnane, balio, ngeluru lare
Lare baku turukeno ring perahu
Perahune murup candi
kang kumendung langsane.
Ada juga anak muda yang melantunkan berdasarkan interpestasi sendiri, melahirkan beberapa perbedaan kata dan makna. Memiliki beberapa perbedaan diksi diantaranya adalah :
• “Kariya ngeluru lare” berubah dan menjadi : “Bariya ngeluru lare”
• “Lare bakal turokeno ring perahu” atau “Lare mbakang turokeno ring perahu”
berubah dan menjadi : “Lare dakon turokeno ring Perahu”
• “urugono ning wono cinde” berubah dan menjadi : “lurubono ning wono cinde”
• Syang Temenggung hang nyakseni berubah dan menjadi “Syang Kumendung welasani”
Kondisi minimnya susunan syair Kembang Pepe, bisa jadi memang alasan hanya sebagai pemanis music penggiring tari, tidak perlu lengkap. Ataukah penyajian singkat, terjadi karena kita semua sudah kehilangan sumber jejak pada kelengkapan bait syair gendhing pelog Kembang Pepe itu sendiri.
3. Syair Lagu Kembang Pepe berdasarkan rekaman kaset suara Gandrung Supinah
Untunglah ada rekaman suara Gandrung Supinah yang sempat melantunkannya dengan lengkap. Secara ingatan saya gending Kembang Pepe versi Mak Pinah inilah yang sangat representative untuk diimplementasikan, baik secara susunan strutur, pengetrapan notasi, diksi, amanat yang masih relevan. Walaupun dalam ingatan saya, masih ada perbedaan pada kata : bakal, yang menurut saya adalah mbangkang. Menurut Yon’S DD secara pribadi memang struktur dan diski kata mbangkang terkesan memiliki lompatan kata lebih indah sengga terkesan secara diksi lebih sexy.
Sebagai murid Gandrung Poniti, tak heran bila Gandrung Supinah juga memiliki kelebihan dalam rapenan karena memiliki kemerduan suara. Itulah sebabnya salah satu kelebihan Supinah adalah memiliki banyak perbendaharaan gendhing gandrung klasik. Dalam beberapa rekaman kaset dan VCD Gandrung Supinah konsisten menyanyikan syair Kembang Pepe dengan bunyi sebagai berikut :
Kembang Pepe merambat ring Kayu Arum
Sang arumo membat manyun
Sampek peyot ngajak lungo
Ngajak lungo, mbok penganten kariyo dhalu
Ngenjot-ngenjot jare lakune
Kariya ngeluru lare
Lare bakal turokeno ring perahu
Urukono ring wono cinde
Syang Temenggung hang nyakseni
4. Syair Lagu Kembang Pepe berdasarkan Choir Sinden Seblang Olehsari
Jejak langkah artevac Kembang Pepe yang tersisa juga dapat ditelusuri dari Upacara adat Seblang Olehsari. Secara keseluruhan syair yang dinyanyikan oleh choir sinden, tidak berbeda dengan yang dinyanyikan Gandrung Supinah. Rumah Gandrung Supinah hanya berjarak 50 Meteran dengan altar Payung Agung pada upacara Seblang Olehsari. Sehingga tidak mengherankan bila keduanya memiliki persamaan walau terdapat beberapa perbedaan kata.
Dwi Putri Ramadani yang sudah 2 (dua) kali pada lebaran didaulat sebagai penari Seblang, telah menuntaskan mengakhiri tugas yang diemban menari in-trance untuk ketiga kalinya didampingi pengutuk (dukun) Aquan pada sore itu tanggal 10 April 2025. Kelompok paduan suara yang terdiri dari sinden wanita paruh baya, Mislatin dkk dengan penuh semangat menyanyikan secara berurutan, gendhing-gendhing diulang-ulang seperti : Podo Nonton, Kembang Gadung, Kembang Menur, Kembang Dirmo, Kembang Pepe, dan Layar Kumendung. Ketiga sinden terdengar menyanyikan choir lagu Kembang Pepe dengan terdapat perbedaan kata yang dinyanyikan Supinah sbb :
Supinah menyanyikan dengan : Ngenjot-ngenjot jare lakune, kata “ngenjot-ngenjot” dilafalkan koor sinden dengan “ngenchot-ngenchot”
Yang sangat jauh berbeda terletak pada baris akhir syair. Saat Supinah menyanyikan dengan : Syang Tumenggung hang nyakseni, kalimat ini berubah total ketika koor sinden menyayikannya dengan kalimat: “ Kang Kumendhung Ngalanseni ”
Elvin Hendratha
Postingan Terbaru
Analisis Filologis dan Semiotik Syair Kembang Dermo dalam Ritual Seblang Banyuwangi
Kembang Dermo merupakan salah satu syair yang dinyanyikan dalam rangkaian rit...
Selasar Jejarak Perkuat Ruang Dialog dan Kreativitas Sastra di Banyuwangi
Selasar Jejarak Perkuat Ruang Dialog dan Kreativitas Sastra di BanyuwangiBANYUWA...
DKB Beri Masukan untuk Musik Pengiring BEC 2026 Bertema Perang Bayu
BANYUWANGI – Persiapan pelaksanaan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 terus di...
di pintu langit
Kata PengantarBupati BanyuwangiIpuk Fiestiandani Azwar Anas Alhamdulillah,...
Diskusi Hallyu Banyuwangi Bahas Strategi Budaya Lokal Menuju Pengaruh Global
BANYUWANGI, 12 Mei 2026, Diskusi bertajuk “Hallyu Banyuwangi: dari Festival ke I...
Tokoh Media dan Budaya Banyuwangi Berpulang, Agusta Tinggalkan Jejak di Dunia Jurnalistik Lokal
BANYUWANGI, 12 Mei 2026 — Dunia jurnalistik Banyuwangi kembali diselimuti duka....